JAKARTA

TOKYO

LONDON

NEW YORK

SYDNEY
Welcome Guest, please [Sign In] [Register]
 
"An investor without investment objectives is like a traveler without a destination." -Ralph Seger

Indonesia | English

TOP NEWS
Dollar Takluk !
Setelah semua data dirilis, Dollar kembali menunjukkan pelemahan lebih lanjut di akhir minggu, mencapai titik terendah mingguan baru ...


 
 
0.25 % 1.00 %
0.10 % 0.50 %
4.50 % 0.75 %
0.25 % 2.50 %
5.31 % 6.50 %

Laba Perbankan Inggris Akan Meningkat Seiring Turunnya Kredit Macet
29 Juli 2010   21:09


Lima perbankan terbesar Inggris, termasuk HSBC Holdings dan Barclays, akan melaporkan kenaikan laba menjadi 8.4 M pounds ($13.1 M) di semester pertama 2010 seiring turunnya alokasi dana untuk kredit macet. Pendapatan bersih akan lebih baik setelah mencatatkan pendapatan 281 juta pound pada tahun sebelumnya, berdasarkan survei Bloomberg News. HSBC, Lloyds Banking Group, Standard Chartered, Barclays, dan Royal Bank of Scotland Group akan memberikan laporan keuangannya pada 2 hingga 6 Agustus.

 
“Perbankan telah menghapus kredit macet secara agresif tahun lalu,” ungkap Alan Beaney, pimpinan Brown Investment Management. Bank Inggris menyishkan dana 35 M pound untuk kredit macet tahun lalu. Ini dapat mengimbangi turunnya pendapatan divisi perbankan investasi yang tidak begitu cemerlang di kwartal kedua, kata petinggi Barclays, Chris Lucas pada 30 Juni.
 
Sementara itu, sterling menyentuh level tertinggi lima bulan terhadap dolar, masih didukung oleh membaiknya data ekonomi Inggris yang dirilis belakangan ini. Dolar AS cukup tertekan seiring investor menyesuaikan portofolio investasinya menjelang penutupan bulan. "Pergerakan harga sterling cukup bagus. Data ekonomi Inggris mendukung dan investor tidak begitu ingin membeli dolar menjelang publikasi data GDP AS," papar Audrey Childe-Freeman, strategis Brown Brothers Harriman.
 
Buruknya data perumahan yang dirilis Kamis tidak banyak mempengaruhi. Persetujuan kredit perumahan dan harga rumah kembli turun. Meskipun demikian, analis sedikit berhati-hati. "Sulit untuk optimis dengan sektor perumahan karena pengetatan fiskal pemerintah akan memukul daya beli konsumen dan terus meningkatkan angka pengangguran," kata Howard Archer, manejer Global Insight.
 

follow us on twitter        

BERITA TERKAIT :