Pemilik KFC dan Pizza Hut Putuskan Hengkang dari China

Pemilik KFC dan Pizza Hut Putuskan Hengkang dari China

Rabu, 21 Oktober 2015 15:38:32 WIB

Monexnews - Yum Brands Inc. mengaku kesulitan untuk menembus pasar konsumen China. Pemilik merek dagang Kentucky Fried Chicken (KFC) dan Pizza Hut ini terpaksa hengkang dari Tiongkok dan menyerahkan hak pengelolaan restorannya kepada perusahaan baru. Yum Brands dulu sempat sesumbar mampu menggenjot penjualan di restoran KFC dan Pizza Hut yang berlokasi di China. Dalam wawancara dengan Wall Street Journal tahun 2003 silam, salah satu petinggi perusahaan melihat China sebagai lahan emas yang bisa menghasilkan banyak uang. Namun pada akhirnya pihak direksi menyerah karena sulitnya menggarap bisnis di pasar konsumen terbesar dunia itu. Pasca divestasi, bukan berarti KFC dan Pizza Hut akan tidak ada lagi di China. Yum akan menyerahkan hak pengelolaan merek dagangnya di Tiongkok kepada perusahaan terpisah. Selain karena karakteristik pasar yang rumit, Yum juga sempat terkendala oleh isu negatif tentang produknya. Perusahaan harus berjuang memulihkan nama baik pasca skandal keamanan produk dan kabar flu burung di China tahun 2013 silam. Padahal Yum sangat serius membidik China sebagai pangsa pasar masa depan yang mampu menghasilkan keuntungan besar. Keseriusan pihak direksi diimplementasikan dengan pembukaan 4200 restoran KFC dan 800 gerai Pizza Hut di negara perekonomian terbesar ke-dua dunia. KFC merupakan anak emas Yum karena kontribusi penjualannya adalah yang terbesar dibandingkan dua unit usaha lainnya di seluruh dunia. Sayangnya konsumen mulai menjauhi restoran cepat saji KFC sejak 3 tahun lalu, setelah pihak pengawas produk makanan China menemukan adanya kandungan antibiotik dan hormon yang berlebihan pada ayam-ayam yang dijual. Ayam potong yang terkontaminasi ini berasal dari dua supplier hewan utama KFC. Pelanggan di China langsung melakukan boikot produk-produk KFC sehingga angka penjualan konsisten menurun. Bukannya jera, Yum justru terus melakukan ekspansi agresif ke seluruh wilayah negeri tirai bambu dengan mengoperasikan 700 restoran baru di tahun 2013 saja. Perseroan percaya bahwa sentimen anti-KFC hanya berlangsung sesaat dan warga China akan kembali mengunjungi cabang-cabang produsen ayam goreng cepat saji terbesar dunia itu. Sayangnya isu tersebut kembali kencang berhembus di tahun 2014 sehingga perusahaan terpaksa menerima laba yang lebih kecil. Pekan lalu, direksi Yum terpaksa menurunkan lagi target penjualan per gerainya untuk tahun 2015. Yum mengatakan susah untuk memprediksi angka penjualan tahun ini di wilayah China karena iklim ekonomi sedang penuh gejolak. Angka same-store sales untuk kuartal IV diyakini flat atau maksimal hanya naik 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan angka penjualan KFC diperkirakan positif namun sebaliknya tidak akan terlalu bagus di restoran-restoran Pizza Hut. Untuk periode setahun penuh, penjualan per gerai di China diyakini hanya tumbuh satu digit dan laba operasional tidak akan berubah banyak dibandingkan tahun 2014. Yum juga melihat penguatan Dollar sebagai kendala yang bisa mengganggu kinerja keuangannya, dan bisa mengurangi pertumbuhan laba per saham (EPS) full-year antara 1 dan 2 poin persentase. Secara keseluruhan, perusahaan makanan cepat saji ini memperkirakan kenaikan EPS tidak terlalu banyak, cenderung flat atau maksimal hanya naik satu digit. Investor bisa melihat laporan same-store sales bulanan mulai November mendatang untuk melihat bagaimana traend penjualan di wilayah China.(dim)


(dim)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search