Aussie, Valuta Paling Lemah di Dunia

Aussie, Valuta Paling Lemah di Dunia

Rabu, 29 Mei 2013 09:42:44 WIB

Monexnews - Rabu ini (29/05) Dollar Australia terpuruk posisi yang tidak pernah tersentuh sejak Oktober 2011. Belum lepas dari tekanan internal, Aussie kembali dihantam oleh penguatan kurs Dollar Amerika Serikat dalam beberapa jam terakhir. Rilis data ekonomi domestik yang positif menjadi alasan mengapa the greenback menjadi begitu perkasa terhadap sebagian besar valuta dunia. Dollar Australia anjlok sampai 0.9570 per USD sekaligus menggenapi penurunan sebanyak 8% bulan Mei. Alhasil, mata uang negeri kangguru ini layak dinobatkan sebagai valuta dengan kinerja terburuk. Rasio koreksinya bahkan melampaui Yen, yang 'hanya' turun sebanyak 6% di tengah pelonggaran agresif pemerintah Tokyo. "Dalam 24 jam terakhir AUD menjadi mata uang terlemah di dunia dan aksi jual bukan cuma dipicu oleh penguatan USD," ujar Nick Parsons, Global co-head of Currency Strategy at National Australia Bank. Sekarang orang bertanya-tanya sejauh mana pelemahan diperlukan guna membuat daya saing eksportir menjadi kompetitif sehingga titik beli bisa mulai terbaca. Aussie merupakan mata uang dengan nilai tukar terkuat tahun lalu. Namun sentimen pendukung tidak lagi berada di pihak Australia sepanjang tahun 2013. Penurunan aktivitas ekonomi dan berakhirnya periode 'booming' komoditi memaksa Reserve Bank of Australia (RBA) memangkas suku bunga acuan pada pertemuan terakhirnya. Banyak pihak berkeyakinan akan adanya pemangkasan susulan dalam waktu dekat, namun bank sentral punya alasan lain untuk menjaga interest rate di posisinya saat ini untuk sementara waktu. Nilai tukar Dollar Australia (AUD) sudah anjlok sebanyak 8% terhadap Dollar Amerika dari level tertingginya di bulan April lalu. Kinerja kurs domestik yang kurang bagus dapat menyurutkan rencana penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Dua pekan lalu, Aussie masih kuat dia atas level paritas (1:1) sebelum akhirnya tergerus oleh penguatan Dollar. Kondisi bahkan diperburuk oleh indikasi penurunan ekonomi China dan merosotnya harga komoditi. RBA sendiri telah memangkas suku bunga sebanyak total 200 basis poin sejak akhir tahun 2011 guna memudahkan aktivitas pelaku bisnis dan konsumen. Mengingat selama ini pihak eksportir terkendala oleh memburuknya daya saing produk di luar negeri, sementara sektor pertambangan juga sedang lesu. Atas dasar itulah, RBA bisa jadi tidak ingin melanjutkan pemangkasan bunga karena kurs Aussie berpeluang turun lebih rendah lagi. Nilai tukar AUD sudah melemah 5.6% sejak RBA memangkas bunga seperempat persen ke level rendah 2.75% pada 7 Mei. AUD/USD terpantau di kisaran 0.9569 pada hari Rabu ini dan pasca menembus level terendah di 0.9543. Sentimen terhadap Dollar Australia berbalik bearish bulan ini sehingga beberapa pengamat memperkirakan depresiasi maksimal sampai 0.80 per Dollar. Pun demikian, kurs rendah itu masih lebih tinggi 22% dibandingkan empat tahun silam. (dim)


(dim)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
CAPTCHA
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search