Dollar Masih Dalam Tekanan, Euro Nantikan GDP

Dollar Masih Dalam Tekanan, Euro Nantikan GDP

Jum'at, 14 Februari 2014 11:22:07 WIB

Monexnews - Dollar AS terperangkap dekat level rendah 3 pekan terhadap sejumlah mata uang utama pada hari Jumat setelah data AS yang mengecewakan menambah tekanan pada greenback. Sementara itu euro mengabaikan berita bahwa Perdana Menteri Italia akan mengundurkan diri, dan fokus pada data GDP zona euro pada hari ini untuk arah jangka pendek. Penjualan ritel AS turun di luar perkiraan di bulan Januari dan jumlah klaim pengangguran bertambah pekan lalu, sinyal terkini bahwa negara perekonomian terbesar di dunia tersebut memulai tahun ini dengan lemah seiring gangguan dari cuaca buruk. Pelemahan pada indeks dollar terjadi seiring penurunan pada yield obligasi AS. Namun anehnya, Wall Street berhasil pulih dan ditutup menguat seiring sejumlah investor mencerna data yang mengecewakan, dan menyalahkan cuaca bukan fundamental yang melemah.

Euro nyaris tidak bereaksi terhadap berita bahwa Perdana Menteri Italia akan mengundurkan diri pada hari Jumat, membuka jalan bagi administrasi ketiga Italia dalam kurun waktu setahun. "Pelaku pasar mengabaikan pengunduran diri oleh Perdana Menteri Italia karena perekonomian zona euro belakangan ini tidak teerpengaruh oleh berita bearish," ucap Ayako Sera, ekonom pasar senior pada Sumitomo Mitsui Trust. "Namun pasar akan bereaksi dengan cepat jika perekonomian zona euro mulai menunjukkan sinyal pelemahan," ucap Sera.

Investor akan memiliki kesempatan untuk mengukur kesehatan perekonomian zona euro melalui data GDP kuartal keempat hari ini. Analis memperkirakan tingkat pertumbuhan zona euro naik tipis. "Setelah Presiden

ECB Mario Draghi secara spesifik megnatakan GDP kuartal keempat adalah kunci bagi kondisi perekonomian, data hari ini akan menjadi fokus," menurut analis pada BNP Paribas. Pekan lalu, Draghi membuat pasar waspada terhadap kemungkinan adanya langkah kebijakan baru di bulan Maret. Data pertumbuhan yang positif nampaknya masih akan dihambat oleh tingkat inflasi yang masih lekat di level rendah, yang mana akan menjadi kunci pelonggaran lanjutan oleh ECB dan pelemahan euro, ucap analis BNP.

Sementara itu

sterling menjadai mata uang dengan performa yang mengejutkan semalam dengan menguat ke level tertinggi dalam hampir selama 3 tahun terhadap greenback. Sterling mencatat penguatan lebih dari 1.5% pekan ini. Data AS yang buruk kontras dengan outlook yang jauh lebih bagus dari Bank of England untuk perekonomian Inggris yang membantu melambungkan nilai tukar pound hari ini. Di pihak lain, dollar Australia sempat melemah sebesar 1 sen penuh terhadap dollar AS akibat lemahnya data tenaga kerja. Namun pagi ini aussie berhasil memagnkas penurunannya, dan kembali ke atas level 90 sen terhadap dollar AS menyusul data China yang menunjukkan inflasi tingkat konsumen naik sebesar 2.5% di bulan Januari, sesuai dengan ekspektasi analis

(xiang)


(xiang)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
CAPTCHA
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search