Dollar AS Melemah Setelah Mayoritas Anggota DPR AS Memilih Untuk Memakzulkan Presiden Donald Trump

Dollar AS Melemah Setelah Mayoritas Anggota DPR AS Memilih Untuk Memakzulkan Presiden Donald Trump

Kamis, 19 Desember 2019 08:50:34 WIB
Pagi ini (19/12), mayoritas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS memilih untuk memakzulkan Presiden Donald Trump atas kejahatan berat dan pelanggaran ringan. Hasil voting ini menjadi yang ketiga dalam sejarah Amerika bahwa banyak anggota dewan yang menyetujui pasal-pasal pemakzulan terhadap seorang Presiden. Dollar AS terlihat melemah terhadap mata uang utama dunia.

Hasil voting yang sesuai ekspektasi pasar merupakan hasil puncak dari investigasi yang berlangsung selama tiga bulan yang telah dilakukan oleh banyak komite di DPR yang dikontrol oleh Demokrat, dan yang ditentang di setiap kesempatan oleh Gedung Putih dan partai Republik di kongres.

Bagaimana selanjutnya? Trump belum benar-benar dipecat. Tidak semudah itu. Tahapan selanjutnya adalah sidang pemecatan di Senat AS. Partai Republik yang merupakan partai dari Presiden Trump memegang kursi mayoritas di Senat AS. Pemecatan memerlukan 2/3 suara Senat. Jadi bila anggota Senat dari Partai Republik tetap kompak ingin mempertahankan presidennya, pemecatan tidak akan terjadi. Sidang Senat direncanakan akan berlangsung mulai awal bulan depan.

Pada akhirnya, Trump menghadapi pemakzulan atas dua tuduhan yang spesifik, yaitu yang pertama adalah menyalahgunakan kekuasaannya dengan membekukan bantuan luar negeri AS ke Ukraina untuk menekan Presiden Ukraina agar melakukan penyelidikan terhadap lawan politik Presiden Tump dalam pemilu Presiden. Menurut artikel pertama dari pemakzulan, tindakan Trump terhadap Ukraina sama dengan menggunakan pemerintahannya untuk meminta "campur tangan pemerintah asing, Ukraina, dalam pemilu Presiden AS di tahun 2020.

Melalui perilakunya, artikel tersebut menyatakan bahwa Trump menunjukkan bahwa dia masih akan menjadi ancaman nasional dan Konstitusi jika dibiarkan tetap berkuasa, dan telah bertindak dengan cara yang sangat tidak sesuai dengan tata pemerintahan sendiri serta aturan hukum.

Presiden Trump dengan demikian menyisipkan kekuasaan Kepresidennya terhadap panggilan dari pengadilan yang sah dari Dewan Perwakilan Rakyat, ungkap artikel tersebut, dan dia mengambil sendiri fungsi dan penilaian, yang merupakan bidang konstitusional dari cabang legislatif dan khususnya DPR.

Meskipun Gedung Putih memberikan arahan kepada para pembantu di musim gugur ini untuk tidak memberikan testimoni, lebih dari selusin mantan dan pejabat yang masih aktif dari pejabat keamanan nasional, diplomat dan pegawai negeri mengabaikan instruksi Presiden dan memilih untuk memberikan kesaksian di bawah sumpah.

Sementara itu untuk artikel kedua tentang pemakzulan menuduh Presiden Trump dengan menganggu Kongres, dengan menuntut bahwa staf tingkat atas di Gedung Putih menentang panggilan pengadilan yang dikeluarkan secara sah yang mereka terima dari komite dewan intelijen, memaksa mereka untuk bersaksi dalam penyeldiikan pemakzulan
(fsyl)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search