'Amerika Tidak akan Dibiarkan Bangkrut'

'Amerika Tidak akan Dibiarkan Bangkrut'

Senin, 07 Oktober 2013 10:26:49 WIB

Monexnews - Amerika Serikat sedang mengalami krisis anggaran akibat belum disetujuinya proposal kenaikan batas hutang oleh kongres. Deadline akan jatuh pada pertengahan Oktober dan setelah itu negara perekonomian terbesar dunia terancam bangkrut atau default. CEO Moody's Investor Service, salah satu agensi rating paling berpengaruh di dunia, percaya bahwa Amerika tidak akan mengalami default terlepas dari buruknya situasi terkini. Pihak yang bertikai di Washington diyakini enggan membiarkan negerinya bangkrut karena bisa berdampak besar terhadap ekonomi global. "Kemungkinan default sangat kecil karena pemerintah pada akhirnya akan bisa membayar tanggungan hutang," ujar CEO Raymond McDaniel kepada CNBC. Ia memprediksi kementerian keuangan bisa menuntaskan tanggung jawab kepada kreditur meski deadline 17 Oktober terlewati. Pemerintahan Amerika telah non-aktif (shutdown) hampir satu pekan karena kurangnya pendanaan operasional. Hal itu membuat pelaku ekonomi dan bisnis khawatir kalau plafon hutang senilai $16.7 triliun tidak akan dikerek naik sebelum masa jatuh tempo. Sejauh ini investor tidak menyikapi isu anggaran secara ekstrim, seperti terlihat dari kenaikan indeks S$P 500 sebanyak 0.5% sejak shutdown berlangsung (per Jumat 04/10). "Ketenangan pasar keuangan memang bagus, namun pada level tertentu investor harus bersikap lebih keras untuk menekan tercapainya kesepakatan," tambah McDaniel. Mengacu pada konflik serupa di tahun 2011, McDaniel meyakini potensi default sangatlah kecil. Alasan historis inilah yang membuat pelaku pasar terlihat santai dalam menyikapi dinamika politik Washington. Menteri Keuangan Jack Lew terus berupaya menggalang dukungan warga dalam upaya menekan pihak kongres. Ia terus menakut-nakuti khalayak dengan memaparkan skenario terburuk apabila proposal kenaikan plafon hutang tidak segera diteken oleh pejabat legislatif sebelum deadline. "Uang $30 miliar dalam kas negara sangatlah kecil. Kita dalam masalah besar apabila hutang tidak bisa dibayar sesuai waktunya," tegasnya. Lew memperingatkan bahwa belanja Amerika sudah melewati batas hutang yang disepakati sejak bulan Mei lalu. Namun berkat langkah darurat, pemerintah masih bisa membayar kewajiban-kewajibannya sampai saat ini. Sayangnya, periode penggunaan 'cara darurat' itu sudah kadaluwarsa dan kabinet Obama membutuhkan suntikan dana baru sesegera mungkin. "Singkat saja, kita kehabisan uang untuk membayar tagihan dan sekarang kita tidak punya cara lain untuk melunasi hutang-hutang," tambah Lew. Agensi rating Moody's masih mempertahankan status AAA Amerika Serikat seraya menempelkan atribut 'stabil' dalam outlook terakhirnya. Sementara agensi S&P sudah melucuti predikat triple-A sejak Agustus 2011 dan kini memberikan rapor AA-plus bagi negara perekonomian terbesar dunia. Fitch Ratings memang masih menjaga penilaian AAA-nya, namun lembaga pemeringkat ini telah memberikan outlook 'negatif' untuk Amerika. (dim)


(dim)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
CAPTCHA
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search