Percepatan Ekonomi China Diharapkan Berdampak Bagus ke Negara Lain

Percepatan Ekonomi China Diharapkan Berdampak Bagus ke Negara Lain

Jum'at, 03 Januari 2014 12:01:08 WIB

Monexnews - Laju pertumbuhan di China meningkat pesat dalam setengah dekade terakhir. Walaupun trend mulai melambat kinerja ekonomi 2014 diperkirakan tetap bagus karena pemerintah sedang giat mengkampanyekan program restrukturisasi nasional. Nilai perekonomian China diperkirakan mampu mendekati angka fantastis $21 triliun dalam delapan hingga sembilan tahun ke depan. Kapitalisasi sebesar itu hampir sama dengan ukuran ekonomi negara terbesar dunia, Amerika Serikat. Meskipun laju perekonomian tidak sebagus 3-4 tahun lalu, estimasi pertumbuhan tetap optimis dalam beberapa periode ke depan. Demikian estimasi ekonomi yang diumumkan oleh National Institute of International Strategy under the Chinese Academy of Social Sciences. Salah satu komponen yang berperan dalam percepatan ekonomi China adalah sektor permintaan untuk produk mineral dari Australia. Pergerakan aktivitas pabrik tahun ini dipastikan lebih riuh dibandingkan tahun lalu sehingga efek positifnya akan menyebar ke luar, termasuk ke lini perekonomian negeri kangguru. Memang sulit berharap terjadinya 'booming' komoditi sebagaiman yang terjadi sekitar lima tahun silam, tetapi prospek pasar komoditi 12 bulan ke depan jelas lebih baik ketimbang 12 bulan ke belakang. Apabila jumlah pesanan hasil komoditi semakin banyak maka perekonomian Australia yang lesu dalam dua tahun belakangan bisa bangkit lagi. Sikap pemerintah China yang lebih liberal dapat membuka pintu investasi dan kerjasama baru di tahun 2014. Selain pemberlakuan zona ekonomi eksklusif di wilayah tertentu, otoritas usaha juga memperlonggar perizinan bisnis bagi perusahaan-perusahaan yang berasal dari Amerika dan Eropa. Namun terlepas dari sikap akomodatif tersebut, Associate Professor di University of International Business and Economics, John Gong, menyatakan bahwa pemerintah harus menentukan momen yang tepat untuk memperketat agenda moneternya. "Kebijakan longgar tidak akan bertahan selamanya kecuali China mau seperti Jepang," ujarnya menyikapi program restrukturisasi Beijing. Pada tahun ini, nilai perekonomian negeri tirai bambu diprediksi melemah menjadi sekitar 6% sampai 7.5%. Namun bermodalkan penambahan belanja modal dan kenaikan daya beli warga, nominal gross domestic product berpeluang tembus ke $13.5 triliun di 2017 dan $20.8 triliun di 2022. Estimasi itu tidak memperhitungkan efek dari penguatan nilai tukar Yuan. Pada tahun 2022 mendatang, perekonomian China akan berkontribusi sebanyak 16.1% terhadap total produk ekonomi dunia atau bebeda tipis dengan sumbangsih Amerika Serikat yang sebesar 20.6%. Sayangnya untuk jangka panjang, pertumbuhan China diperkirakan turun ke kisaran 6% per tahun dari levelnya saat ini di 7.5% dalam satu dasawarsa ke depan. Alasan utama di balik estimasi tersebut adalah tingginya populasi warga usia tua. Populasi warga usia produktif akan mencapai titik puncaknya dalam hitungan tahun sebelum akhirnya turun perlahan. (dim)


(dim)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
CAPTCHA
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search