Indeks Saham Berjangka AS Melemah Sikapi Perlambatan Ekonomi China

Indeks Saham Berjangka AS Melemah Sikapi Perlambatan Ekonomi China

Selasa, 22 Januari 2019 18:33:06 WIB

Saham berjangka AS mengindikasikan kerugian untuk Wall Street pada hari Selasa, karena kekhawatiran baru atas keadaan ekonomi global seiring kembalinya perdagangan setelah libur pada Senin.

Laporan pendapatan perusahaan sepanjang tahun lalu akan menjadi fokus investor dalam pekan-pekan ke depan.

Dow Jones Industrial Average berjangka turun 193 poin, atau 0,8%, menjadi 24.495, sementara S&P 500 berjangka turun 20,85 poin, atau 0,8% menjadi 2.650,50. Nasdaq-100 berjangka turun 68,25 poin, atau 1%, menjadi 6.725.

Saham di bursa AS reguler ditutup lebih tinggi untuk sesi keempat berturut-turut pada hari Jumat. The Dow Jones Industrial Average naik 336,25 poin, atau 1,4%, berakhir pada 24.706,35 untuk kenaikan mingguan 3%. Indeks S&P 500 naik 1,3% menjadi 2.670,71, sepekan naik 2,9%. Sedangkan Nasdaq Composite menambahkan bobot 1% menjadi 7.157,23, mengakhiri pekan lalu dengan 2,7% lebih tinggi.

Setelah China mencatat laju pertumbuhan tahunan paling lambat 6,6% - sejak 1990, Presiden Xi Jinping dilaporkan mengadakan pertemuan para pejabat Partai Komunis tingkat tinggi, mendesak mereka untuk waspada terhadap peristiwa keuangan "angsa hitam" dan "badak abu-abu". dalam menghadapi perlambatan ekonomi. Ketegangan perdagangan antara AS dan China diklaim sebagai penyebab perlambatan ekonomi China.

Black swan atau angsa hitam adalah peristiwa atau kejadian yang sangat negatif yang sangat sulit diprediksi. Dengan kata lain, peristiwa angsa hitam adalah peristiwa yang tidak terduga dan tidak dapat diketahui.

Sementara badak abu-abu adalah istilah untuk ancaman yang sangat mungkin terjadi, berdampak tinggi namun terabaikan, yang ketika terjadi, dapat menyebabkan kerusakan parah

Mengutip data yang lemah, Presiden Donald Trump di akun Twitternya Senin malam mengatakan bahwa Cina harus melakukan Perjanjian Riil dan berhenti bermain-main," ketika datang untuk berdagang dengan AS. Namun kedua negara dilaporkan masih jauh dari kata sepakat dengan masalah-masalah utama seperti pencurian kekayaan intelektual.


(Irdy)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search