Kejatuhan Bursa Saham China Akan Menular ke Bursa Global

Kejatuhan Bursa Saham China Akan Menular ke Bursa Global

Rabu, 24 Oktober 2018 16:06:18 WIB

Kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi China pada akhirnya akan mengguncang seluruh dunia diperlihatkan pada hari Selasa kemarin, tercermin dalam penurunan yang melanda pasar ekuitas global.

Indeks Dow Jones Industrial Average pada hari Selasa berakhir lebih rendah lebih dari 100 poin, atau 0,5%, tetapi telah turun sebanyak 548 poin pada awal sesi, dengan Nasdaq Composite Index COMP, turun-0,42% dan indeks S & P 500 SPX, terkoreksi -0,55%.

Penurunan indeks di Wall Street pada Selasa kemarin membuktikan adanya dampak dari koreksi di pasar ekuitas China. Sentimen yang datang setelah Shanghai Composite SHCOMP berakhir turun 2,3%, sedangkan Indeks Shenzhen Composite ditutup 1,9% lebih rendah.

Secara keseluruhan, Shanghai Composite telah kehilangan 27% dari nilainya sejak mencapai puncaknya pada 24 Januari, sementara indeks Shenzhen telah menurun 34% sejak puncaknya akhir Januari, menurut data FactSet. Itu berarti kedua indeks acuan ini berada jauh di dalam wilayah bearish.

Penurunan Harga Komoditas

Fawad Razaqzada, analis teknikal di platform riset dan perdagangan Forex.com, mengatakan kepada MarketWatch bahwa dia sudah melihat tanda-tanda penularan dari anjloknya harga komoditas di China yang merupakan importir besar logam, minyak mentah dan bahan baku lainnya. .

"Melemahnya yuan terhadap dollar berarti permintaan China untuk komoditas dengan denominasi dolar tidak diragukan lagi menurun. Dengan pasar saham China juga jatuh, ini mungkin juga mengurangi daya beli mereka, " jelas Razaqzada.

Harga tembaga bermutu tinggi HGZ8 yang banyak digunakan sebagai logam industri di bangunan manufaktur dan elektronik, pada hari Selasa turun 16,5% sejak awal tahun, atau melemah 1,7% di bulan Oktober menjadi $ 2,758 per pon. Penurunan harga tembaga bulanan ini merupakan penurunan ketujuh dari sembilan bulan terakhir.

Karena penggunaan industrinya, logam sering dirujuk sebagai indikator ekonomi terkemuka dan penurunan baru-baru ini telah dikaitkan dengan tanda-tanda keretakan dalam ekonomi China, yang menurut para ahli pasar telah diperkuat oleh bentrokan perdagangan Beijing dengan AS.

Memang, produk domestik bruto China tumbuh 6,5% dari tahun sebelumnya pada kuartal ketiga, turun dari 6,7% pertumbuhan pada kuartal ketiga, mewakili laju ekspansi ekonomi China yang paling lambat dalam hampir satu dekade.

Perbedaan antara kinerja saham AS dan seluruh dunia juga telah dianggap sebagai bukti untuk mendukung gagasan bahwa kejatuhan bursa saham China telah menginfeksi pasar global di luar AS.

Misalnya, iShares MSCI ACWI ex US ETF ACWX, ETF populer yang digunakan untuk berinvestasi di saham-saham di luar AS, turun 11,5% sejauh ini di 2018, dibandingkan dengan kenaikan 2,5% untuk S & P 500. Demikian pula iShares MSCI Emerging Markets ETF EEM, telah kehilangan hampir 16% dalam 10 bulan pertama tahun ini.

Sementara itu, China telah menyiapkan putaran baru stimulus moneter dan fiskal untuk membantu mendukung ekonomi dan pasar sahamnya, dengan baru-baru ini mengumumkan rencana untuk meningkatkan pembiayaan obligasi untuk perusahaan swasta dan memotong pajak untuk rumah tangga.


(Irdy)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search