Bos Exxon: Amerika Hanya Butuh 6 Tahun untuk Jadi Raja Minyak

Bos Exxon: Amerika Hanya Butuh 6 Tahun untuk Jadi Raja Minyak

Jum'at, 10 Januari 2014 10:30:30 WIB

Monexnews - Program ketahanan energi yang dicanangkan pemerintah Amerika Serikat dan swasta mulai menunjukkan hasil. Inovasi dalam teknologi pengeboran di bawah permukaan karang menjadi senjata bagi negeri Paman Sam untuk menjadi raja baru di pasar minyak dunia. Menurut CEO Exxon Mobil, cita-cita kemandirian energi Amerika Serikat akan benar-benar tercapai pada tahun 2020 mendatang. "Saya kira negara ini bisa sepenuhnya mandiri. Kita bahkan sudah menjadi produsen gas alam terbesar dunia, dan tahun lalu jumlah produksi minyak telah meningkat ke level tertinggi sejak 1980-an," ujar Rex Tillerson, bos dari perusahaan minyak termahal sejagad itu. Amerika Serikat diprediksi menggeser posisi Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar dunia pada tahun 2016. Proyeksi itu dilontarkan International Energy Agency (IEA), yang melihat booming migas di Amerika akan segera mencapai momentumnya. Pada Oktober 2013 lalu, untuk pertama kalinya produksi minyak domestik Amerika melewati volume impor. Padahal fenomena tersebut sudah tidak pernah terjadi sejak dua dasawarsa silam. Kalaupun ada negara yang bisa mengalahkan Amerika dalam hal produksi minyak di masa depan, tidak lain hanyalah China. Namun dalam kenyataannya negara ini belum mampu menjawab tantangan dalam metode pengeboran, karena secara geologis kontur wilayahnya lebih kompleks dibandingkan Amerika. "China memiliki metode pengeboran yang lebih kaya, namun tantangannya juga jauh lebih banyak ketimbang negara lain," tambah Tillerson. Pendapatnya ini mengacu pada formasi cadangan minyak yang terletak jauh di dalam perut bumi dengan lokasi tambang yang terpencil. Dibutuhkan investasi masif untuk membangun fasilitas produksi, sedangkan di saat yang sama teknologi hydraulicfracturing (fracking) juga membutuhkan sumber air yang besar. Tillerson mengakui sudah mempelajari tantangan yang dihadapi pelaku industri migas China karena Exxon Mobil menjalin kerjasama produksi dengan beberapa perusahaan domestik.
*Harga kontrak minyak mentah berjangka saat ini terpantau pada posisi $92.37 per barel. (dim)


(dim)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
CAPTCHA
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search