GDP Jepang Mengalami Kontraksi di Kuartal III-2018

GDP Jepang Mengalami Kontraksi di Kuartal III-2018

Rabu, 14 November 2018 10:11:00 WIB

Ekonomi Jepang mengalami kontraksi lebih dari yang diperkirakan pada kuartal ketiga, disebabkan adanya bencana alam dan penurunan ekspor. Tanda-tanda ini mengkhawatirkan karena dianggap kebijakan proteksionisme perdagangan AS sudah mulai berdampak negatif pada berkurangnya permintaan luar negeri pada barang asal Jepang.

Kontraksi di ekonomi terbesar ketiga di dunia menambah tanda-tanda melemahannya ekonomi global, menyebabkan China dan Eropa kehilangan momentum percepatan ekonomi. Data Gross Domestic Product (GDP) Jerman yang akan dirilis Rabu siang ini juga diprediksi akan menunjukkan adanya kontraksi sebesar 0,3 persen selama kuartal ketiga lalu.

Secara mengejutkan, ekonomi Jepang mengalami kontraksi tahunan 1,2 persen pada periode Juli-September, melebihi perkiraan rata-rata untuk penurunan 1,0 persen dan jauh berbeda dengan ekspansi 3,0 persen pada kuartal sebelumnya.

Kendati demikian, Pemerintah Jepang tetap berpegang pada pandangannya bahwa ekonomi terus pulih secara moderat, menyalahkan kontraksi pada topan dan gempa bumi yang menghentikan aktivitas pabrik-pabrik dan menekan konsumsi.

Tetapi beberapa analis mengatakan faktor satu-satunya itu sendiri tidak bisa menjelaskan penurunan, menunjuk ke penurunan mengkhawatirkan dalam ekspor di tengah perlambatan permintaan China dan kejatuhan dari meningkatnya friksi perdagangan global.

"Penurunan ekspor tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan bencana alam," kata Hiroaki Muto, ekonom di Tokai Tokyo Research Center.

"Pesannya adalah ekonomi China melemah, yang berarti ekspor Jepang akan lambat untuk pulih dan pertumbuhan akan berhenti sekitar semester pertama tahun depan.," imbuhnya.

GDP Jepang pada Juli-September turun 0,3 persen dari kuartal sebelumnya, sesuai dengan perkiraan pasar namun lebih rendah dari pertumbuhan kuartal kedua 0,8 persen.

Sementara banyak analis memperkirakan ekonomi Jepang akan rebound pada kuartal saat ini, kelemahan dalam ekspor menunjukkan proteksionisme dapat membebani pertumbuhan dan menekan para pembuat kebijakan untuk beralih ke stimulus fiskal.


(Irdy)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search