Mata Uang Negara Emerging Market di Asia Berpeluang Reli

Mata Uang Negara Emerging Market di Asia Berpeluang Reli

Jum'at, 25 Januari 2019 16:12:17 WIB

Mata uang negara-negara emerging market diperkirakan akan reli di tengah sikap pro-pertumbuhan global, namun tetap rentan terhadap risiko pembalikan arah secara tiba-tiba akibat dampak pembicaraan perdagangan AS-China, demikian menurut laporan penelitian terbaru dari Scotiabank.

Pada hari Senin, IMF mengatakan mereka sekarang memproyeksikan tingkat pertumbuhan 3,5 persen di seluruh dunia untuk 2019 dan 3,6 persen untuk 2020, turun masing-masing 0,2 dan 0,1 poin persentase dari perkiraan terakhir pada Oktober. IMF menurunkan prospek globalnya untuk kedua kalinya dalam tiga bulan. Di China, pihak berwenang telah meningkatkan upaya untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

PBoC mengatakan pada hari Kamis bahwa pihaknya akan mengatur swap tagihan bank sentral (CBS) untuk meningkatkan likuiditas obligasi abadi bank, dengan tujuan mendorong bank untuk menambah modal melalui penerbitan obligasi berkelanjutan di tengah perlambatan ekonomi China. Obligasi abadi Bank dengan peringkat tidak lebih rendah dari "AA" akan dimasukkan sebagai jaminan yang memenuhi syarat untuk fasilitas pinjaman jangka menengah (MLF), fasilitas pinjaman jangka menengah yang ditargetkan (TMLF), fasilitas pinjaman jangka panjang (SLF) dan -pinjaman.

CBIRC, regulator perbankan dan asuransi China, mengatakan kemarin bahwa negara akan mengizinkan lembaga asuransi untuk berinvestasi dalam obligasi tier 2 dan obligasi abadi yang dikeluarkan oleh bank.

Sementara itu, Scotia mencatat beberapa bank sentral regional tidak terburu-buru untuk memberikan penurunan suku bunga untuk saat ini meskipun belakangan ini mereka bersikap dovish. Gubernur Bank of Korea (BoK) Lee Ju-yeol mengatakan kemarin bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk mempertimbangkan pelonggaran moneter lebih lanjut dengan kebijakan moneter yang masih akomodatif, tambah laporan itu.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg pada hari Kamis bahwa penurunan suku bunga mungkin masih sulit saat ini meskipun suku bunga acuan mendekati puncaknya. Sentimen pasar kemungkinan akan terus berayun antara penghindaran risiko dan minat pada aset berisiko sampai ketidakpastian seputar pembicaraan perdagangan AS-Cina memudar.

Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan dalam sebuah wawancara di CNBC pada hari Kamis bahwa pihaknya masih jauh dari kata sepakat, mengecilkan harapan untuk mengakhiri perang perdagangan AS-China.

Negara emerging market di Asia secara mengejutkan akan menerima dampak positif dari perang perdagangan AS-China dimana sejumlah perusahaan China berencana memindahkan pabriknya ke negara seperti Indonesia dan Vietnam untuk menghindari tarif tinggi dari AS karena barang yang dikirim ke AS tidak lagi ditandai sebagai made in China melainkan dianggap sebagai barang asal negara lokasi pabrik.


(Irdy)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search