Menkeu Prancis: Kami Mau Hemat tanpa Mengurangi Belanja

Menkeu Prancis: Kami Mau Hemat tanpa Mengurangi Belanja

Rabu, 01 Oktober 2014 17:07:39 WIB

Monexnews - Pemerintah Prancis pada hari Rabu (01/10) mempresentasikan RAPBN tahun 2015. Fokus utama dari anggaran belanja tersebut sangatlah jelas, yakni memperbaiki kondisi keuangan nasional dan menciptakan iklim ekonomi yang tidak terlalu bergantung pada pendanaan pemerintah. Menteri Keuangan Prancis, Michel Sapin, menjelaskan rincian strategi pemangkasan belanja negara senilai 21 miliar Euro ($26.5 miliar). Di dalamnya mencakup berbagai area mulai dari tunjangan kesejahteraan hingga belanja pemerintah daerah. Pemangkasan anggaran memang menjadi agenda utama dari Presiden Francois Hollande sejak ia pertama kali mengambil tampuk kekuasaan di bulan Mei 2012. Sayangnya sampai sekarang pemerintah gagal mencapai target penghematan yang diinginkan karena jika mengurangi belanja secara drastis, perekonomian domestik dikhawatirkan kolaps. Begitu pun dalam RAPBN 2015, pemerintah masih enggan menurunkan belanja meski sedang dikejar oleh target pemangkasan defisit. "Kami serius mempelajari penghematan, tetapi kami menolak pengurangan belanja," ujar Sapin dalam konferensi pers di Paris. Kondisi ekonomi Prancis memang sangat buruk dengan pertumbuhan produk domestik bruto nihil dan jumlah pengangguran melonjak tajam. Daya belanja konsumen juga sangat rendah dan pelaku bisnis enggan berinvestasi di sektor riil. Tidak heran jika menurut poll terbaru, popularitas presiden Hollande dan partainya semakin anjlok karena warga Prancis mulai tidak sabar menghadapi kondisi perekonomian terkini. Menurut Hollande, belanja publik diperlukan untuk menutup fasilitas keringanan pajak yang diberikan kepada pelaku usaha. Ia menganggap stimulus di sektor bisnis lebih efektif mengangkat kinerja ekonomi karena mampu menggenjot investasi dan menyerap tenaga kerja. Oleh karena itulah ia tidak ingin anggarannya dipapas habis-habisan untuk periode 2015. Pemerintah Eropa sedang mengamati langkah Prancis karena pemerintah sudah berulangkali gagal memenuhi target defisit yang ditetapkan oleh otoritas kawasan. Hutang negara sudah membengkak hingga lebih dari 2 triliun Euro atau setara 95.1% dari nilai GDP tahunan. Sementara untuk tahun ini saja, jumlah defisit akan naik menjadi 4,4% dari nilai GDP atau 0,1% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Padahal ambang batas defisit terhadap GDP yang ditoleransi oleh pemerintah Eropa ada di level 3%. (dim)


(dim)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
CAPTCHA
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search