Pejabat Fed: Penguatan Besar Picu Volatilitas Besar

Pejabat Fed: Penguatan Besar Picu Volatilitas Besar

Jum'at, 24 Mei 2013 16:31:00 WIB

Monexnews - Kebijakan moneter super longgar yang diberlakukan pemerintah sukses menciptakan riak positif di pasar keuangan. Indeks saham utama Tokyo sudah menguat nyaris 40% sepanjang tahun ini, sebagian besar berkat pelemahan nilai tukar Yen. Kombinasi antara pemberlakuan suku bunga rendah dan stimulus moneter triliunan Yen dirilis pemerintah guna memenuhi pencapaian target inflasi 2% dalam dua tahun ke depan. Jepang memang sempat dituding sengaja memicu perang mata uang dengan melemahkan nilai tukarnya. Secara langsung depresiasi JPY berhasil menaikkan tingkat laba eksportir karena produk yang mereka jual di luar negeri harganya jadi lebih bersaing. Namun seiring waktu berjalan anggapan tersebut pudar. Pemerintah sukses meyakinkan dunia internasional bahwa depresiasi Yen adalah dampak dari kebijakan moneter bank sentral dan bukan tujuan utama pihak pusat. Khusus bagi Nikkei, penguatan beberapa bulan terakhir tergolong mengesankan. Akan tetapi semakin besar rally yang dibukukan oleh indeks utama maka makin besar pula volatilitas di pasar. Pada hari Kamis kemarin, Nikkei anjlok sampai 7% akibat sentimen global dan bukan terpengaruh oleh adanya kebijakan baru pemerintah. Rasio koreksi tersebut adalah yang terbesar sejak Maret 2011, saat bencana gempa dan tsunami melanda negara itu. Spot Nikkei bahkan tercatat sudah jebol ke bawah 14,000 dan sempat menyambangi level terendah 13,981. Banyak pihak tersentak namun banyak pula yang menganggap volatilitas itu lumrah, seperti yang dikatakan oleh Kepala Federal Reserve Wilayah St.Louis, James Bullard. "Saya tidak kaget dengan volatilitas di (bursa) Jepang. Kalau pasar saham anda bisa menguat secepat itu, maka bersiap juga untuk melihat volatilitas," ujarnya kepada CNBC. Bullard melihat saat ini adalah momen penting bagi perekonomian Jepang sehingga pelaku pasar menyikapinya dengan antusias. Lebih lanjut, Bullard menganggap pasar saham manapun akan mengalami hal serupa apabila kinerjanya sama seperti Nikkei dalam 6 bulan terakhir. Biasanya pelaku pasar akan dibayangi kegundahan tentang apa yang terjadi dan bagaimana prospek ke depannya. "Saya yakin banyak orang yang menjadi sensitif sekarang. Mereka bertanya-tanya ke mana pasar akan bergerak dan kebijakan pemerintah apa yang muncul nanti," tutup Bullard. (dim)


(dim)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
CAPTCHA
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search