Pertama Kalinya, KTT APEC Gagal Hasilkan Deklarasi

Pertama Kalinya, KTT APEC Gagal Hasilkan Deklarasi

Senin, 19 November 2018 12:40:05 WIB

KTT APEC di Papua Nugini akhir pekan lalu untuk pertama kalinya, gagal menyepakati deklarasi akhir, sejak pertemuan tahunan ini digelar pada 1993.

Perbedaan yang mendalam antara Amerika Serikat dan Cina atas perdagangan dan investasi menghambat kerjasama negara-negara Asia Pasifik.

Persaingan antara Amerika Serikat dan China di Pasifik juga menjadi fokus dengan AS dan sekutu Baratnya yang mengkritisi program On Belt and Road Beijing atau Jalur Sutra versi baru dari Beijing.

"Anda tahu ada dua raksasa besar di KTT ini," kata Perdana Menteri Papua Nugini (PNG) Peter O'Neill pada konferensi pers penutupan, ketika ditanya yang mana dari 21 anggota kelompok Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) ini yang tidak setuju.

O'Neill, yang adalah ketua pertemuan, mengatakan titik peliknya adalah apakah Deklarasi Pemimpin harus menyebut Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan kemungkinan reformasinya.

Dalam acara itu, Amerika Serikat mengatakan akan bergandengan tangan dengan Australia dalam mengembangkan pangkalan laut di Papua Nugini, dalam upaya yang tampaknya diarahkan untuk meredam pengaruh Cina.

Menurut Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence, pangkalan laut itu akan membantu "melindungi kedaulatan dan hak-hak maritim di kepulauan Pasifik".

Pada Sabtu, Presiden Cina Xi Jinping menyerang kebijakan Amerika, yang mengutamakan kepentingan dalam negeri, dengan mengatakan bahwa negara-negara yang memberlakukan proteksionisme "akan mengalami malapetaka".

China mengatakan tidak ada satu pun negara berkembang yang mengalami kesulitan utang karena bekerja sama dengan Beijing. Pence membantahnya dan menyebut Maladewa sebagai negara yang mengalami kesusahan setelah terjerat utang China dan memperingatkan negara-negara berkembang agar jangan terjebak dalam Lautan Utang dari China.

Satu diplomat yang terlibat dalam perundingan mengatakan ketegangan antara AS dan China, yang menggelegak sepanjang minggu, meletus ketika diplomat top pemerintah China, Wang Yi, keberatan atas dua paragraf dalam rancangan dokumen yang dilihat oleh Reuters.

Pihak AS disebutkan menentang "praktik perdagangan tidak adil" dan ingin mereformasi WTO, sementara yang lain memperhatikan pembangunan berkelanjutan tanpa menyebut WTO.

"Kedua negara saling mendorong sehingga ketua tidak bisa melihat opsi untuk menjembatani mereka," kata diplomat itu, yang berbicara tanpa menyebut nama.


(Irdy)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search