Rusia Naikan Perkiraan Defisit Untuk Tahun Depan Di Tengah Resesi Ekonomi

Rusia Naikan Perkiraan Defisit Untuk Tahun Depan Di Tengah Resesi Ekonomi

Kamis, 25 Desember 2014 21:10:21 WIB

Monexnews - Menteri keuangan Rusia, Anton Siluanov mengatakan bahwa Rusia kemungkinan akan menghadapi "tingginya" defisit pada tahun depan daripada yang mereka rencanakan seiring ekonomi merosot menuju resesi.

"Jika pendapatan lebih rendah dan belanja-belanja utama sepenuhnya masih di biayai, maka kita harus menggunakan cadangan devisa dan meningkatkan jumlah defisit," kata Siluanov kepada wartawan di Moskow. "Satu tahun dengan defisit tidaklah begitu menakutkan, hal yang paling penting saat ini adalah mempersiapkan anggaran di masa depan."

Minyak, yang merupakan sumber pendapatan terbesar Rusia, di perdagangkan di dekat level terendah lima tahun, kian memperburuk ekonomi Rusia setelah terkena dampak dari sanksi-sanksi dari AS dan Eropa setelah Presiden Vladimir Putin melakukan serangan ke Crimea pada bulan Maret lalu. GDP Rusia mungkin akan menyusut setidaknya 4,5% di tahun 2015 jika harga minyak mentah rata-rata $60 per barel, menurut skenario stress bank sentral. Selisih anggaran tahun depan direncanakan sebesar 0,6%.

Rencana 1 triliun ruble untuk mengkapitalisasi kembali perbankan akan mendorong anggaran pada tahun depan menjadi defisit terbesar dalam empat tahun, mencapai 0,8% sampai 0,9%, dibandingkan dengan surplus 0,6% dari estimasi sebelumnya.

Dewan Federasi, yang merupakan majelis tinggi parlemen, telah meloloskan undang-undang pada hari ini untuk mendukung perbankan, yang kecukupan modalnya telah turun setelah sanksi yang membatasi akses ke pasar modal dan anjloknya ruble, berdasarkan pernyataan Siluanov.

Di setujuinya undang-undang tersebut berikan Deposit Insurance Agency tambahan dana sebesar 1 triliun ruble ($19 milyar) yang akan digunakan untuk membeli obligasi dalam negeri yang dikenal dengan nama OFZs, berikan mereka hak untuk berinvestasi dalam pinjaman subordinasi dan saham preferen bank dan mengizinkan mereka untuk membeli saham-saham lembaga peminjaman sebelum mereka menghadapi kebangkrutan.

(fsyl)


(fsyl)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
CAPTCHA
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search