Tiga Skenario Brexit Pasca-Voting di Parlemen

Tiga Skenario Brexit Pasca-Voting di Parlemen

Senin, 07 Januari 2019 17:43:11 WIB

Perdana Menteri Inggris Theresa May menghadapi berkurangnya sejumlah opsi atas Brexit menjelang pemungutan suara penting di parlemen di akhir pekan ini atas kesepakatan yang telah ia buat dengan para pemimpin Uni Eropa.

Meskipun May berjanji untuk mencari "jaminan hukum" dari rekan-rekannya di Uni Eropa atas bagian-bagian perjanjian yang kontroversial, tampaknya peta dukungan hanya sedikit berubah sejak dia menunda pemungutan suara parlemen atas perjanjian itu bulan lalu karena indikasi minimnya dukungan ke May di parlemen.

Berikut adalah tiga skenario utama yang dihadapi Inggris sementara waktu deadline perpisahan dengan Uni Eropa kian dekat pada 29 Maret 2019 :

- Kesepakatan

Ini adalah Brexit yang diinginkan oleh pemerintah Inggris dan para pemimpin UE - namun mayoritas anggota parlemen dari Partai Koservatif Inggris keberatan.

Kesepakatan itu telah ditolak oleh beberapa anggota Konservatif serta partai-partai oposisi Partai Buruh dan Partai Demokrat Liberal karena menjaga Inggris terikat terlalu dekat atau terlalu jauh dengan Uni Eropa.

May berjanji kepada anggota parlemen dia akan meminta sejumlah konsesi dari Brussels sebagai perubahan pada draf kesepakatan tetapi tampaknya gagal melakukannya pada pertemuan puncak pada bulan Desember lalu.

Pemerintah May bermaksud untuk memperkenalkan kembali rancangan yang sama untuk pemungutan suara pada 14 Januari mendatang.

Pasar berharap bahwa ketakutan akan kekacauan yang timbul akibat tidak tercapainya kesepakatan mungkin akan memaksa anggota parlemen untuk mengesampingkan pendirian mereka dan memilih menerima draft kesepakatan. Jika kalah dalam pemungutan suara, pemerintah telah mengisyaratkan akan mengajukan sedikit revisi dari kesepakatan yang sama sampai parlemen menerimanya.

- Tidak sepakat

Ini disebut sebagai skenario kiamat yang mengancam munculnya resesi di Inggris dan sangat memperlambat pertumbuhan ekonomi Uni Eropa. Ini adalah opsi default jika parlemen Inggris memberikan suara menentang kesepakatan dan tidak ada solusi lain.

Perubahan mendadak ke standar yang berbeda akan berdampak pada hampir setiap sektor ekonomi - dan mungkin menyebabkan harga produk sehari-hari di Inggris melambung.

Bisnis Inggris menimbun barang sementara Brussels berusaha menemukan cara untuk mempertahankan operasi mengalir bebas yang melibatkan pusat jasa keuangan besar-besaran London.

- Referendum kedua

Pendukung Inggris bertahan di UE (Stay) telah menyerukan pemungutan suara kedua sejak yang pertama menghasilkan kemenangan bagi pihak pendukung Brexit (Leave) dengan suara 52 persen, berbanding 48 persen pada Juni 2016.

Tidak ada undang-undang yang mencegah Inggris melakukan referendum lagi, tetapi banyak yang mempertanyakan apakah ini akan demokratis - dan mengapa upaya kedua harus diutamakan daripada yang pertama.

Ini juga mengancam akan memecah belah dengan jajak pendapat yang menunjukkan negara masih terbelah atas masalah ini. Seruan untuk pemungutan suara ulang teah meningkat selama beberapa bulan terakhir.


(Irdy)

Lihat Disclaimer
   
KIRIM KOMENTAR ANDA
Upload
0 KOMENTAR
Update terus mengenai promo, tools dan berita terbaru dari Monex
Monexnews.com menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan monexnews adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar trading serta investasi online.

Search